Phone:
(701)814-6992
Physical address:
6296 Donnelly Plaza
Ratkeville, Bahamas.

Alur Cerita Bilangan Fu
Bilangan Fu menceritakan Sandi Yuda, seorang pemanjat tebing yang memiliki pemikiran rasional dan cenderung skeptis terhadap takhayul. Bersama teman-temannya, Yuda melakukan kegiatan panjat tebing di kawasan Sewugunung, tepatnya di perbukitan kapur Watugunung.
Di sana, Yuda bertemu dengan Parang Jati, seorang mahasiswa geologi yang sangat menghormati alam. Pandangan mereka yang berbeda membuat keduanya sering berdebat, terutama mengenai cara manusia memperlakukan alam dan kegiatan panjat tebing. Meski memiliki banyak perbedaan, hubungan mereka berkembang menjadi persahabatan yang erat.
Keadaan mulai berubah ketika berbagai kejadian aneh terjadi di Sewugunung, seperti hilangnya mayat dari kuburan dan pembunuhan seorang guru ngaji. Yuda dan Parang Jati kemudian terlibat dalam berbagai misteri serta konflik yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat setempat, spiritualitas, dan kerusakan alam.
Konflik semakin rumit ketika muncul kelompok keagamaan fanatik yang dipimpin Farisi. Kelompok tersebut berhadapan dengan Parang Jati karena pandangannya mengenai budaya, agama, dan usaha menjaga lingkungan. Di sisi lain, terdapat pula persoalan pertambangan yang mengancam kawasan Watugunung.
Di tengah berbagai konflik tersebut, hubungan Yuda, Parang Jati, dan Marja—kekasih Yuda—juga menjadi semakin rumit. Perjalanan mereka akhirnya tidak hanya menjadi petualangan untuk mengungkap berbagai misteri, tetapi juga perjalanan untuk memahami alam, spiritualitas, cinta, dan cara manusia memandang kehidupan.
Meet the Characters
Konflik yang Dialami Tokoh
Latar
What Makes It Interesting?
Bilangan Fu menarik karena menggabungkan petualangan, misteri, hubungan persahabatan dan cinta, kepercayaan lokal, spiritualitas, serta isu lingkungan. Ceritanya juga tidak hanya mengajak pembaca mengikuti misteri, tetapi mempertanyakan bagaimana manusia memahami alam, agama, dan sesuatu yang tidak selalu dapat dijelaskan secara rasional.
Amanat
Manusia perlu menghargai alam dan kebudayaan, tetapi tetap menggunakan pemikiran kritis dalam memahami kepercayaan dan berbagai persoalan kehidupan.